Monday, January 7, 2013

Mata Air yang Tidak Pernah Kering

Yesaya 58:6-12
Beberapa waktu yang lalu ada sebuah khotbah yang merhema dalam hati saya sampai saat ini. Tentang bagaimana kita menjalin sebuah relasi dengan Tuhan. Salah satunya cobalah untuk mematikan kedagingan dengan berpuasa, maka nantinya kita bisa “lebih mendengar” suara Tuhan dan membuka mata rohani kita. Saya setuju dengan hal itu dan mulai berdoa pada Tuhan untuk lebih tepatnya, puasa seperti apa, bagaimana, hari apa saja kepada Tuhan.

Dan malam ini ketika sedang membaca Alkitab, sampai pada kitab Yesaya, saya tertarik dengan ayat yang membahas tentang puasa yang berkenan tersebut.

Bukan! Puasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu belenggu kelaliman, dan melepaskan tali tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa kerumahmu orang miskin yang tidak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu. – Yesaya 6-7 –

Ayat tersebut mengingatkan saya akan arti dari Tahun Ayin Gimel yang sedang kita nikmati. Ya, tahun dimana kemuliaan Tuhan menjadi milik bagian orang-orang yang lebih mementingkan memberi kepada orang miskin dan yang membutuhkan dari pada untuk dirinya sendiri (ayat 10).

Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar, dan lukamu akan pulih dengan segera. Kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN menjadi barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata : “ini Aku!”  - Yesaya 8-9a –
Me ^^ @ Taman Kyai Langgeng - Magelang

 Dan janjiNYA bahwa kita tidak akan pernah mengalami kekeringan baik dalam hal jasmani maupun Rohani (ayat 11) menjadi salah satu ayat favorit saya.Kita dipakai Tuhan sebagai mata air yang tersedia bagi mereka yang kekeringan di sekitar kita, tapi kita akan terus dipenuhi dengan aliran air kehidupan. Seperti sebuah pesan yang terrhema dalam hatiku : Minum dan terus minum air kehidupan itu sampai dalam dirimu ada mata air, sumber air sendiri yang membuatmu tidak pernah akan kering lagi. Karena aliran sungai hidup Roh Kudus itu mengalir dalam kita tanpa berhenti.

Tapi terlebih dahulu, saya berdoa agar TUHAN mampukan saya untuk menggenapi bagian ayat-ayat sebelumnya. janjiNYA itu ya dan amin. Cuma terkadang kita itu yang terlalu naif dan tidak mau melakukan apapun yang jadi bagian kita. Semuanya toh asalnya dari DIA, DIA yang akan menyediakan semuanya. Ayat-ayat ini meneguhkan langkah ke depan saya bersama TUHAN.

Jehovah Jireh -- From Faith To Faith--

Setiap tahun aku percaya Tuhan selalu bawa aku ke suatu pendidikan dan proses yang berbeda, terus naik levelnya. Dan hidup berjalan bersama Tuhan itu luar biasa. Mengasyikkan, namun juga menegangkan. Tetapi dari kesemuanya, aku sangat kagum akan setiap karyaNYA dalam hidupku. Dia penulis yang terhebat! Setiap karyaNYA itu masterpiece! 

“Dan di dalam kitabMu semuanya tertulis. Semua hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya – Mazmur 139:36 –

Begitu aku lahir baru, tahun 2005, perjalanan berdua dengan Tuhan itu dimulai dari satu titik yang luar biasa. Percepatan! Sebuah kehormatan dan tanggung jawab bagiku si hamba ini untuk melayani dan berdiri di hadapan Raja sekalipun secara rohani belum terlalu kuat. Tapi terpujilah namaNYA karena DIA bawa aku dalam proses pendewasaan yang istimewa melalui kedua orang tua, sekolah, pergumulan dengan Pasangan Hidup dan hubungan-hubungan, sampai pada tahun 2012 yang lalu, sebuah proses perombakan dasar dan diukir Tuhan dengan kisah KasihNYA. Sungguh terlalu ajaib kalau ingat semua kebaikanNYA dalam hidupku. memilikiNYA saja begitu luar biasa, berjalan bersamaNYA itu luar biasa!
Sudah tidak aku sangkal lagi bagaimana aku bersyukur untuk semua privilage untuk bisa dibentuk Tuhan secara pribadi di dalam sekolah KegerakkanNYA. Semua ceritaNYA terlalu banyak sampai aku tidak bisa menghitungnya lagi. Aku ingin membagikan apa yang di penghujung tahun ini aku alami bersamaNYA.

Suatu hari di bulan-bulan terakhir tahun ini, ada rasa sedikit kecewa dan mempertanyakan kepada Tuhan. Ya, satu hal yang bodoh.

“Tuhan, kenapa ya kok aku belum dapatkan berkat yang besar, Kau tahu aku butuh itu untuk “menunjukkan” Tuhanku itu menyediakan, sehingga keluargaku juga bisa percaya padaMU!” kira-kira begitu yang aku katakan.

Tuhan diam. Dan hatiku diwarnai dengan kegalauan. Sehingga berkat-berkat besar dariNYA itu tidak aku perhitungkan. Padahal kalau bukan karena divine connection yang dari padaNYA, tidak mungkin aku bisa diterima bekerja di sekolah dan lembaga bimbingan belajar. Tapi rasa tidak puas dengan gaji yang sekian dan kejenuhan aktivitas sehari-hariku itu membuatku sama sekali melupakan ucapan syukur dari hati terdalam. Bahkan dalam beberapa saat, aku sudah nyaris lupa bahwa AnugerahNYA yang besar aku nikmati selama 6 bulan. Seperti pengajaran itu hilang tak berbekas.

Aku cuma belum tahu saja kalau pada waktu itu Tuhan sedang mengajarku. Yang kukejar waktu itu cuma keberhasilan secara finansial, tapi aku terus mengandalkan kekuatanku. Kalau dipikir-pikir, sekarang dengan gaji yang sekian itu aku sama sekali nggak bisa membayangkan untuk bisa maju. Dan hal itu semakin membuatku frustasi.

Cukup dengan hal itu. Tuhan berbicara lewat khotbah PAP yang aku streaming di Rhema : We are the Champion. Benar kan, banyak orang yang mulai merasa kecewa karena belum menerima apa “yang besar” menurut mereka. Berkat milyaran? Are you sure? Kalau aku dikasih uang sebanyak itu juga belum tentu tahu harus dipakai apa. Jadi apa berkat yang sebenarnya itu? Simple. Hidupmu itu berkat terbesarNYA.

Dan inilah pesan-pesan Tuhan yang disampaikan HambaNYA yang menjadi Rhema bagi hidupku.
Jangan menggunakan kekuatan sendiri, atau mengandalkan orang lain. Percayakan dirimu pada Tuhan karena Dia yang akan menyediakan. Karena sepanjang tahun ini ada orang-orang yang menggunakan kekuatannya lalu menjadi kecewa. Hal ini seolah mengingatkanku akan kebodohkan dalam bulan-bulan terakhir ini. Selama di Sekolah aku diajari untuk bergantung sama Tuhan, apa-apa itu minta Tuhan dan sudah terbukti Dia yang menyediakan semua kebutuhanku, kebutuhan yang tidak dipakai untuk keinginan daging tentunya. Dari sini aku juga diajar Tuhan untuk punya pengendalian diri dan mencukupkan diri dengan apa yang ada. Bukan berarti pelit, tapi tahu yang mana yang prioritas, lalu doa minta ke Tuhan. Dan hari-hari ini, tiba-tiba jadi sangat kuat untuk bergantung sama Tuhan itu. 
Sebuah kesaksian kecil aku alami dalam minggu-minggu ini. Sebenarnya untuk ke Semarang dan mengikuti KKR, aku cuma membawa sedikit saku. Tapi karena semuanya sudah terjamin, untuk makan minum dan penginapan, sehingga aku cuma butuh beberapa untuk transport ke Semarang. Masalahnya, ketika pulang, tanggal 2 Januari adalah tanggal aku harus membayar pajak kendaraan dan tidak ada tabungan sama sekali. Aku cuma bisa pasrah karena aku mencoba ke Bimbel tempat aku kerja untuk mencairkan fee, tidak diijinkan karena belum tanggalnya. Dan aku tidak mau mencoba bergantung pada orang lain, kepada mama atau papa, seperti kebiasaanku beberapa bulan terakhir ini. Tapi yang bagiku sangat lain adalah dalam hatiku bisa begitu teduh dan tenang. Yah terkadang masih ada gejolak, tapi dengan cepat akan mereda. Dan memang pertolongan Tuhan itu nyata dalam hidupku. Hari ini semuanya tersedia dan dicukupkan. Ya, dari hal-hal yang sepele sekalipun aku ingin kembali mempraktekkan iman kepada Bapaku yang mencukupkan segala sesuatu. Karena tahun ini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku merasakan Tuhan tengah mempersiapkanku untuk bertumbuh dalam iman dan hanya berharap kepadaNYA. Ya, karena aku tidak akan mampu sendiri.

From Faith to Faith, From Grace to Grace, From Glory to Glory.

“Buat aku kuat dalam anugerahMU Tuhan, dari Anugerah ke Anugerah. Karena dari AnugerahMU lah aku hidup, Tuhan. Buat aku stabil dalam pengiringanku dan perjalananku denganMU.”  

Sunday, December 30, 2012

The Author and The Finisher of My Faith

Perjalanan yang ajaib menuju ke KKR Glory to Glory – Bahtera 2012 telah aku lalui. Baru saja kembali ke daerah asal, keinginan untuk menceritakan kebaikan Tuhan itu begitu besar. Catatan ini cuma sebuah catatan kecil perbuatan besar yang Tuhan berikan dalam hidupku sepanjang tahun 2012 ini. Sebuah tahun yang ajaib dan dahsyat dimana Tuhan membawaku pada didikan satu ke didikan yang lain. Bukan cuma berhenti pada sekolah karakter IMPACT tahun 2012 saja, tapi sampai akhir hayatku nanti Roh KudusNya sendiri akan terus mengajariku dari hari ke hari. 

Berawal dari sekembalinya aku dari masa pendidikan di Semarang. Semua keseharian yang berjadwal padat dan beratmosfir rohani yang begitu kental berganti dengan atmosfir kesinisan dunia yang aku harus hadapi hari demi hari. Belum lagi harapan terlalu besar dari orang-orang sekitarku, yang beranggapan lulus dari IMPACT adalah menjadi manusia yang baik luar biasa, berubah dalam sekejab mata. Dan untuk mencapai hal itu aku butuh Anugerah Tuhan.

Tuhan terus korek hatiku. Aku senang itu, sekalipun rasanya sangat tidak enak. Beberapa karakter terjelekku yang agaknya belum “terpancing” keluar waktu masa pendidikan di IMPACT tiba-tiba meledak keluar di masa peralihanku kembali ke kota asal. Dari jam doa yang menggebu-gebu dan teman-teman yang menyemangati berganti pada rutinitas keseharian yang seakan membuatku jadi pengangguran, membuat jiwaku merasa jenuh. Hal itu membuatku merasa begitu buruk, ditambah dengan tuntutan orang sekitar. Terpuruk, terpojok dan marah! Suatu sikap hati yang begitu menjijikkan di hadapan Tuhan, aku tahu.

Aku sempat begitu jijik dengan diriku sendiri. Bahkan sempet bertanya-tanya, akankah aku “berakhir” seperti ini? Tuhan, Engkau tidak salah pilihkah? Orang jeleknya kayak aku gini sampai kapan bisa menghasilkan buah-buah Roh, bahkan yang matang di hadapanMU? Kapan aku bisa berubah Tuhan?
Tapi semua itu terjawab satu persatu. Tuhan bawaku mendengar maksudNya melalui khotbah HambaNYA, Pak Yusak Tjipto. Seorang Pilar sejati yang pun merasa kalau dia nggak pantas, nggak layak, wong  jeleknya seperti ini kok Tuhan pilih. Aku merasa begitu juga. Aku bahkan kalau jadi Tuhan, mungkin orang kayak diriku ini udah aku buang dan nggak aku pakai. Ternyata hal itu bukan saja aku yang merasakannya, tapi juga para Senior Pilar. Saat itulah aku sadar, kalau aku dipilih itu bukan karena siapa aku, bukan karena kuat dan gagahku, tapi karena AnugerahNYA! Memang sangat teoritis dan siapapun tahu itu, tapi kecenderungan hati manusia yang diperanakkan dalam dosa itu yang membuat kita sulit untuk tetap sejalan dengan Tuhan. Ada saja alasan untuk sedikit ke kanan atau neleng ke kiri. Mau tidak mau, aku hadapi itu dalam hidupku. Hidupku? Karakterku? Cuma Tuhan yang bisa ubah! Rasa putus asa itu kerap menghinggapiku. Merasa kalau aku sendiri bisa merubah sifatku dan berusaha menunjukkan kepada orang sekitarku yang terus men-spot aku. Mereka bukan hanya mencela, tapi juga meremehkan. Hal itu kadang membuatku menangis. Bagaimana aku bisa menangkan mereka Tuhan kalau aku sendiri tidak bisa jadi teladan atau apa itu yang mereka mau?

Semua ini mengajarkanku rendah hati. Mengakui di hadapan Tuhan kalau aku ini cuma hamba, cuma bisa ndlosor di hadapan Tuhan dan berdoa dengan sungguh, “Tuhan jangan pernah menyerah dengan diriku. Aku tahu aku ini jeleknya kayak apa. Munafiknya, buruknya, sombongnya seperti apa. Tapi satu hal yang aku minta, jangan pernah berhenti mendidikku, mengasahku, menjadikanku seperti yang KAU mau. Jangan pernah pergi dari hidupku. Jangan pernah biarkan aku berpaling. Tarik hatiku... bagaimanapun caranya, bawaku masuk rencanaMU, paksakan semuanya jadi dalam hidupku.”

Dan satu kalimat itu muncul begitu kuat di benakku: He is the Author and the Finisher of my Faith.
Siapa yang membuatku memilihNYA? Yang membuatku jatuh cinta padaNYA? Kalau aku ada sekarang sebagai orang yang percaya, orang yang berharap dan mencintaiNYA itu karena DIA yang memberikanku hal itu. DIA lah yang membuatku bisa punya cinta untukNYA, iman kepadaNYA, berharap padaNYA. Aku ini milik kepunyaanNYA, aku buatan TANGANNYA, DIA lah yang akan bertanggung jawab atas hidupku. Kurang lebih itulah makna dari kalimat tersebut yang aku tangkap.
Dan diteguhkan benar oleh khotbah hambaNYA, bahwa janji Tuhan itu: apapun yang dilakukan anakKU ini, AKU yang bertanggung jawab.

Ya. Tuhan, aku tidak mau menyia-nyiakan AnugerahMU. Ajarku jadi seperti yang KAU mau. Bukan berarti tidak jatuh bangun, bukan berarti berhenti berusaha, tapi aku terus percaya. Aku ini milikMU. Buatan tanganMU. 

He is the Author and the Finisher of my Faith. HE wont let me undone.

Partners