Thursday, January 10, 2013

When I say Master

when i say Master... my sorrow disappears
when i say Father... He wipes away my tears
when i say Savior .. my blinded eyes can see
when i say Jesus... He speaks Peace to me

sometimes the words even cant explain how i feel,
sometimes I just pretend to be strong
but here inside my heart, i cry...
then when i sing this song...
i know You understand the deepest feeling of my heart
You know me more than anyone else ever do, Lord
You know how abstract my feelings sometimes
and everytime i sing this song...
my soul is rejoiced
coz i know, I am yours.
i have a Loving Father

when i say Master...
i know who i am... i'm a useless servant, doing what You want me to do... then my heart is revived because i know You will take care of my life. My Master will stand for me, to whom will i be afraid of?

when i say Father...
You know the deepest feelings, the feeling of rejections, the fears to face the problems i have, the fears of unknown future... and i find out that I have a comforting Father... who will always embrace through the days of trouble. i dont ask You to take away all of the problems i have, but i just need Your Embrace, Your Presence always be there with me.

when i say Savior...
the Lord who do the largest miraculous things in my life!

when I say Your Name... Jesus
all of sudden, My heart, soul and mind filled with peace.

I need You
I cant live without You
You're everything to me
You are the world to me. . . 

Monday, January 7, 2013

Mata Air yang Tidak Pernah Kering

Yesaya 58:6-12
Beberapa waktu yang lalu ada sebuah khotbah yang merhema dalam hati saya sampai saat ini. Tentang bagaimana kita menjalin sebuah relasi dengan Tuhan. Salah satunya cobalah untuk mematikan kedagingan dengan berpuasa, maka nantinya kita bisa “lebih mendengar” suara Tuhan dan membuka mata rohani kita. Saya setuju dengan hal itu dan mulai berdoa pada Tuhan untuk lebih tepatnya, puasa seperti apa, bagaimana, hari apa saja kepada Tuhan.

Dan malam ini ketika sedang membaca Alkitab, sampai pada kitab Yesaya, saya tertarik dengan ayat yang membahas tentang puasa yang berkenan tersebut.

Bukan! Puasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu belenggu kelaliman, dan melepaskan tali tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa kerumahmu orang miskin yang tidak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu. – Yesaya 6-7 –

Ayat tersebut mengingatkan saya akan arti dari Tahun Ayin Gimel yang sedang kita nikmati. Ya, tahun dimana kemuliaan Tuhan menjadi milik bagian orang-orang yang lebih mementingkan memberi kepada orang miskin dan yang membutuhkan dari pada untuk dirinya sendiri (ayat 10).

Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar, dan lukamu akan pulih dengan segera. Kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN menjadi barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata : “ini Aku!”  - Yesaya 8-9a –
Me ^^ @ Taman Kyai Langgeng - Magelang

 Dan janjiNYA bahwa kita tidak akan pernah mengalami kekeringan baik dalam hal jasmani maupun Rohani (ayat 11) menjadi salah satu ayat favorit saya.Kita dipakai Tuhan sebagai mata air yang tersedia bagi mereka yang kekeringan di sekitar kita, tapi kita akan terus dipenuhi dengan aliran air kehidupan. Seperti sebuah pesan yang terrhema dalam hatiku : Minum dan terus minum air kehidupan itu sampai dalam dirimu ada mata air, sumber air sendiri yang membuatmu tidak pernah akan kering lagi. Karena aliran sungai hidup Roh Kudus itu mengalir dalam kita tanpa berhenti.

Tapi terlebih dahulu, saya berdoa agar TUHAN mampukan saya untuk menggenapi bagian ayat-ayat sebelumnya. janjiNYA itu ya dan amin. Cuma terkadang kita itu yang terlalu naif dan tidak mau melakukan apapun yang jadi bagian kita. Semuanya toh asalnya dari DIA, DIA yang akan menyediakan semuanya. Ayat-ayat ini meneguhkan langkah ke depan saya bersama TUHAN.

Jehovah Jireh -- From Faith To Faith--

Setiap tahun aku percaya Tuhan selalu bawa aku ke suatu pendidikan dan proses yang berbeda, terus naik levelnya. Dan hidup berjalan bersama Tuhan itu luar biasa. Mengasyikkan, namun juga menegangkan. Tetapi dari kesemuanya, aku sangat kagum akan setiap karyaNYA dalam hidupku. Dia penulis yang terhebat! Setiap karyaNYA itu masterpiece! 

“Dan di dalam kitabMu semuanya tertulis. Semua hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya – Mazmur 139:36 –

Begitu aku lahir baru, tahun 2005, perjalanan berdua dengan Tuhan itu dimulai dari satu titik yang luar biasa. Percepatan! Sebuah kehormatan dan tanggung jawab bagiku si hamba ini untuk melayani dan berdiri di hadapan Raja sekalipun secara rohani belum terlalu kuat. Tapi terpujilah namaNYA karena DIA bawa aku dalam proses pendewasaan yang istimewa melalui kedua orang tua, sekolah, pergumulan dengan Pasangan Hidup dan hubungan-hubungan, sampai pada tahun 2012 yang lalu, sebuah proses perombakan dasar dan diukir Tuhan dengan kisah KasihNYA. Sungguh terlalu ajaib kalau ingat semua kebaikanNYA dalam hidupku. memilikiNYA saja begitu luar biasa, berjalan bersamaNYA itu luar biasa!
Sudah tidak aku sangkal lagi bagaimana aku bersyukur untuk semua privilage untuk bisa dibentuk Tuhan secara pribadi di dalam sekolah KegerakkanNYA. Semua ceritaNYA terlalu banyak sampai aku tidak bisa menghitungnya lagi. Aku ingin membagikan apa yang di penghujung tahun ini aku alami bersamaNYA.

Suatu hari di bulan-bulan terakhir tahun ini, ada rasa sedikit kecewa dan mempertanyakan kepada Tuhan. Ya, satu hal yang bodoh.

“Tuhan, kenapa ya kok aku belum dapatkan berkat yang besar, Kau tahu aku butuh itu untuk “menunjukkan” Tuhanku itu menyediakan, sehingga keluargaku juga bisa percaya padaMU!” kira-kira begitu yang aku katakan.

Tuhan diam. Dan hatiku diwarnai dengan kegalauan. Sehingga berkat-berkat besar dariNYA itu tidak aku perhitungkan. Padahal kalau bukan karena divine connection yang dari padaNYA, tidak mungkin aku bisa diterima bekerja di sekolah dan lembaga bimbingan belajar. Tapi rasa tidak puas dengan gaji yang sekian dan kejenuhan aktivitas sehari-hariku itu membuatku sama sekali melupakan ucapan syukur dari hati terdalam. Bahkan dalam beberapa saat, aku sudah nyaris lupa bahwa AnugerahNYA yang besar aku nikmati selama 6 bulan. Seperti pengajaran itu hilang tak berbekas.

Aku cuma belum tahu saja kalau pada waktu itu Tuhan sedang mengajarku. Yang kukejar waktu itu cuma keberhasilan secara finansial, tapi aku terus mengandalkan kekuatanku. Kalau dipikir-pikir, sekarang dengan gaji yang sekian itu aku sama sekali nggak bisa membayangkan untuk bisa maju. Dan hal itu semakin membuatku frustasi.

Cukup dengan hal itu. Tuhan berbicara lewat khotbah PAP yang aku streaming di Rhema : We are the Champion. Benar kan, banyak orang yang mulai merasa kecewa karena belum menerima apa “yang besar” menurut mereka. Berkat milyaran? Are you sure? Kalau aku dikasih uang sebanyak itu juga belum tentu tahu harus dipakai apa. Jadi apa berkat yang sebenarnya itu? Simple. Hidupmu itu berkat terbesarNYA.

Dan inilah pesan-pesan Tuhan yang disampaikan HambaNYA yang menjadi Rhema bagi hidupku.
Jangan menggunakan kekuatan sendiri, atau mengandalkan orang lain. Percayakan dirimu pada Tuhan karena Dia yang akan menyediakan. Karena sepanjang tahun ini ada orang-orang yang menggunakan kekuatannya lalu menjadi kecewa. Hal ini seolah mengingatkanku akan kebodohkan dalam bulan-bulan terakhir ini. Selama di Sekolah aku diajari untuk bergantung sama Tuhan, apa-apa itu minta Tuhan dan sudah terbukti Dia yang menyediakan semua kebutuhanku, kebutuhan yang tidak dipakai untuk keinginan daging tentunya. Dari sini aku juga diajar Tuhan untuk punya pengendalian diri dan mencukupkan diri dengan apa yang ada. Bukan berarti pelit, tapi tahu yang mana yang prioritas, lalu doa minta ke Tuhan. Dan hari-hari ini, tiba-tiba jadi sangat kuat untuk bergantung sama Tuhan itu. 
Sebuah kesaksian kecil aku alami dalam minggu-minggu ini. Sebenarnya untuk ke Semarang dan mengikuti KKR, aku cuma membawa sedikit saku. Tapi karena semuanya sudah terjamin, untuk makan minum dan penginapan, sehingga aku cuma butuh beberapa untuk transport ke Semarang. Masalahnya, ketika pulang, tanggal 2 Januari adalah tanggal aku harus membayar pajak kendaraan dan tidak ada tabungan sama sekali. Aku cuma bisa pasrah karena aku mencoba ke Bimbel tempat aku kerja untuk mencairkan fee, tidak diijinkan karena belum tanggalnya. Dan aku tidak mau mencoba bergantung pada orang lain, kepada mama atau papa, seperti kebiasaanku beberapa bulan terakhir ini. Tapi yang bagiku sangat lain adalah dalam hatiku bisa begitu teduh dan tenang. Yah terkadang masih ada gejolak, tapi dengan cepat akan mereda. Dan memang pertolongan Tuhan itu nyata dalam hidupku. Hari ini semuanya tersedia dan dicukupkan. Ya, dari hal-hal yang sepele sekalipun aku ingin kembali mempraktekkan iman kepada Bapaku yang mencukupkan segala sesuatu. Karena tahun ini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku merasakan Tuhan tengah mempersiapkanku untuk bertumbuh dalam iman dan hanya berharap kepadaNYA. Ya, karena aku tidak akan mampu sendiri.

From Faith to Faith, From Grace to Grace, From Glory to Glory.

“Buat aku kuat dalam anugerahMU Tuhan, dari Anugerah ke Anugerah. Karena dari AnugerahMU lah aku hidup, Tuhan. Buat aku stabil dalam pengiringanku dan perjalananku denganMU.”  

Partners